Q.S. 37 : 1-182 : Surah Ash Shaffat (Yang Bershaf-shaf) – Arab, Latin, Terjemahan

Surah Ash Shaffat
(Yang Bershaf-shaf)
Surat ke 37 : 182 Ayat

Keterangan Surah (klik disini)

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
 
Bismillahirrahmaaniraahiim(i)

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفًّا
Wa Aş-Şāffāti Şaffāan
Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya],
فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجْرًا
Fālzzājirāti Zajrāan
dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat),
فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكْرًا
Fālttāliyāti Dhikrāan
dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran,
إِنَّ إِلَٰهَكُمْ لَوَٰحِدٌ
‘Inna ‘Ilahakum Lawāĥidun
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.
رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ ٱلْمَشَٰرِقِ
Rabbu As-Samāwāti Wa Al-‘Arđi Wa Mā Baynahumā Wa Rabbu Al-Mashāriqi
Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.
إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِزِينَةٍ ٱلْكَوَاكِبِ
‘Innā Zayyannā As-Samā’a Ad-Dunyā Bizīnatin Al-Kawākib
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,
وَحِفْظًا مِّن كُلِّ شَيْطَٰنٍ مَّارِدٍ
Wa Ĥifžāan Min Kulli Shayţānin Māridin
dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka,
لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلْمَلَإِ ٱلْأَعْلَىٰ وَيُقْذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٍ
Lā Yassamma`ūna ‘Ilá Al-Mala’i Al-‘A`lá Wa Yuqdhafūna Min Kulli Jānibin
syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.
دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ
Duĥūrāan Wa Lahum `Adhābun Wa Aşibun
Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,
إِلَّا مَنْ خَطِفَ ٱلْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُۥ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
‘Illā Man Khaţifa Al-Khaţfata Fa’atba`ahu Shihābun Thāqibāun
akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.
فَٱسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَم مَّنْ خَلَقْنَآ إِنَّا خَلَقْنَٰهُم مِّن طِينٍ لَّازِبٍۭ
Fāstaftihim ‘Ahum ‘Ashaddu Khalqāan ‘Am Man Khalaqnā ‘Innā Khalaqnāhum Min Ţīnin Lāzibin
Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.
بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُونَ
Bal `Ajibta Wa Yaskharūna
Bahkan kamu menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka menghinakan kamu.
وَإِذَا ذُكِّرُوا۟ لَا يَذْكُرُونَ
Wa ‘Idhā Dhukkirū Lā Yadhkurūna
Dan apabila mereka diberi pelajaran mereka tiada mengingatnya.
وَإِذَا رَأَوْا۟ ءَايَةً يَسْتَسْخِرُونَ
Wa ‘Idhā Ra’aw ‘Āyatan Yastaskhirūna
Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda kebesaran Allah, mereka sangat menghinakan.
وَقَالُوٓا۟ إِنْ هَٰذَآ إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ
Wa Qālū ‘In Hādhā ‘Illā Siĥrun Mubīnun
Dan mereka berkata “Ini tiada lain hanyalah sihir yang nyata.
أَءِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبْعُوثُونَ
‘A’idhā Mitnā Wa Kunnā Turābāan Wa `Ižāmāan ‘A’innā Lamab`ūthūna
Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)?
أَوَءَابَآؤُنَا ٱلْأَوَّلُونَ
‘Awa’ābā’uunā Al-‘Awwalūna
Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (akan dibangkitkan pula)”?
قُلْ نَعَمْ وَأَنتُمْ دَٰخِرُونَ
Qul Na`am Wa ‘Antum Dākhirūna
Katakanlah: “Ya, dan kamu akan terhina”
فَإِنَّمَا هِىَ زَجْرَةٌ وَٰحِدَةٌ فَإِذَا هُمْ يَنظُرُونَ
Fa’innamā Hiya Zajratun Wāĥidatun Fa’idhā Hum Yanžurūna
Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka meIihatnya.
وَقَالُوا۟ يَٰوَيْلَنَا هَٰذَا يَوْمُ ٱلدِّينِ
Wa Qālū Yā Waylanā Hādhā Yawmu Ad-Dīni
Dan mereka berkata: “Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan.
هَٰذَا يَوْمُ ٱلْفَصْلِ ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ
Hādhā Yawmu Al-Faşli Al-Ladhī Kuntum Bihi Tukadhibūna
Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.
ٱحْشُرُوا۟ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ وَأَزْوَٰجَهُمْ وَمَا كَانُوا۟ يَعْبُدُونَ
Aĥshurū Al-Ladhīna Žalamū Wa ‘Azwājahum Wa Mā Kānū Ya`budūna
(kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,
مِن دُونِ ٱللَّهِ فَٱهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْجَحِيمِ
Min Dūni Allāhi Fāhdūhum ‘Ilá Şirāţi Al-Jaĥīmi
selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.
وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْـُٔولُونَ
Wa Qifūhum ‘Innahum Mas’ūlūna
Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya:
مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ
Mā Lakum Lā Tanāşarūna
“Kenapa kamu tidak tolong menolong?”
بَلْ هُمُ ٱلْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ
Bal Humu Al-Yawma Mustaslimūna
Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.
وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَآءَلُونَ
Wa ‘Aqbala Ba`đuhum `Alá Ba`đin Yatasā’alūna
Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan.
قَالُوٓا۟ إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ ٱلْيَمِينِ
Qālū ‘Innakum Kuntum Ta’tūnanā `Ani Al-Yamīni
Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan.
قَالُوا۟ بَل لَّمْ تَكُونُوا۟ مُؤْمِنِينَ
Qālū Bal Lam Takūnū Mu’uminīna
Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah yang tidak beriman”.
وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَٰنٍۭ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَٰغِينَ
Wa Mā Kāna Lanā `Alaykum Min Sulţānin Bal Kuntum Qawmāan Ţāghīna
Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas.
فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَآ إِنَّا لَذَآئِقُونَ
Faĥaqqa `Alaynā Qawlu Rabbinā ‘Innā Ladhā’iqūna
Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu).
فَأَغْوَيْنَٰكُمْ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ
Fa’aghwaynākum ‘Innā Kunnā Ghāwīna
Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.
فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِى ٱلْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ
Fa’innahum Yawma’idhin Fī Al-`Adhābi Mushtarikūna
Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِٱلْمُجْرِمِينَ
‘Innā Kadhālika Naf`alu Bil-Mujrimīna
Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat.
إِنَّهُمْ كَانُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
‘Innahum Kānū ‘Idhā Qīla Lahum Lā ‘Ilāha ‘Illā Allāhu Yastakbirūna
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓا۟ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍۭ
Wa Yaqūlūna ‘A’innā Latārikū ‘Ālihatinā Lishā`irin Majnūnin
dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”
بَلْ جَآءَ بِٱلْحَقِّ وَصَدَّقَ ٱلْمُرْسَلِينَ
Bal Jā’a Bil-Ĥaqqi Wa Şaddaqa Al-Mursalīna
Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).
إِنَّكُمْ لَذَآئِقُوا۟ ٱلْعَذَابِ ٱلْأَلِيمِ
‘Innakum Ladhā’iqū Al-`Adhābi Al-‘Alīmi
Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.
وَمَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Wa Mā Tujzawna ‘Illā Mā Kuntum Ta`malūna
Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan,
إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ
‘Illā `Ibāda Allāhi Al-Mukhlaşīna
tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).
أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُومٌ
‘Ūlā’ika Lahum Rizqun Ma`lūmun
Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu,
فَوَٰكِهُ وَهُم مُّكْرَمُونَ
Fawākihu Wa Hum Mukramūna
yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan,
فِى جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ
Fī Jannāti An-Na`īmi
di dalam surga-surga yang penuh nikmat.
عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَٰبِلِينَ
`Alá Sururin Mutaqābilīna
di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.
يُطَافُ عَلَيْهِم بِكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍۭ
Yuţāfu `Alayhim Bika’sin Min Ma`īnin
Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.
بَيْضَآءَ لَذَّةٍ لِّلشَّٰرِبِينَ
Bayđā’a Ladhatin Lilshāribīna
(Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum.
لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ
Lā Fīhā Ghawlun Wa Lā Hum `Anhā Yunzafūna
Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.
وَعِندَهُمْ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرْفِ عِينٌ
Wa `Indahum Qāşirātu Aţ-Ţarfi `Īnun
Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,
كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَّكْنُونٌ
Ka’annahunna Bayđun Maknūnun
seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.
فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَآءَلُونَ
Fa’aqbala Ba`đuhum `Alá Ba`đin Yatasā’alūna
Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap.
قَالَ قَآئِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّى كَانَ لِى قَرِينٌ
Qāla Qā’ilun Minhum ‘Innī Kāna Lī Qarīnun
Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman,
يَقُولُ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُصَدِّقِينَ
Yaqūlu ‘A’innaka Lamina Al-Muşaddiqīna
yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?
أَءِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ
‘A’idhā Mitnā Wa Kunnā Turābāan Wa `Ižāmāan ‘A’innā Lamadīnūna
Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”
قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ
Qāla Hal ‘Antum Muţţali`ūna
Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”
فَٱطَّلَعَ فَرَءَاهُ فِى سَوَآءِ ٱلْجَحِيمِ
Fāţţala`a Fara’āhu Fī Sawā’i Al-Jaĥīmi
Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.
قَالَ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ
Qāla Ta-Allāhi ‘In Kidta Laturdīni
Ia berkata (pula): “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,
وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّى لَكُنتُ مِنَ ٱلْمُحْضَرِينَ
Wa Lawlā Ni`matu Rabbī Lakuntu Mina Al-Muĥđarīna
jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).
أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ
‘Afamā Naĥnu Bimayyitīna
Maka apakah kita tidak akan mati?,
إِلَّا مَوْتَتَنَا ٱلْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ
‘Illā Mawtatanā Al-‘Ūlá Wa Mā Naĥnu Bimu`adhabīna
melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
‘Inna Hādhā Lahuwa Al-Fawzu Al-`Ažīmu
Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar.
لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ ٱلْعَٰمِلُونَ
Limithli Hādhā Falya`mali Al-`Āmilūna
Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”
أَذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ
‘Adhalika Khayrun Nuzulāan ‘Am Shajaratu Az-Zaqqūmi
(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum.
إِنَّا جَعَلْنَٰهَا فِتْنَةً لِّلظَّٰلِمِينَ
‘Innā Ja`alnāhā Fitnatan Lilžžālimīna
Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.
إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِىٓ أَصْلِ ٱلْجَحِيمِ
‘Innahā Shajaratun Takhruju Fī ‘Aşli Al-Jaĥīmi
Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala.
طَلْعُهَا كَأَنَّهُۥ رُءُوسُ ٱلشَّيَٰطِينِ
Ţal`uhā Ka’annahu Ru’ūsu Ash-Shayāţīni
mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.
فَإِنَّهُمْ لَءَاكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِـُٔونَ مِنْهَا ٱلْبُطُونَ
Fa’innahum La’ākilūna Minhā Famāli’ūna Minhā Al-Buţūna
Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.
ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ
Thumma ‘Inna Lahum `Alayhā Lashawbāan Min Ĥamīmin
Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas.
ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى ٱلْجَحِيمِ
Thumma ‘Inna Marji`ahum La’ilá Al-Jaĥīmi
Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.
إِنَّهُمْ أَلْفَوْا۟ ءَابَآءَهُمْ ضَآلِّينَ
‘Innahum ‘Alfaw ‘Ābā’ahum Đāllīna
Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat.
فَهُمْ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمْ يُهْرَعُونَ
Fahum `Alá ‘Āthārihim Yuhra`ūna
Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.
وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ ٱلْأَوَّلِينَ
Wa Laqad Đalla Qablahum ‘Aktharu Al-‘Awwalīna
Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ
Wa Laqad ‘Arsalnā Fīhim Mundhirīna
dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka.
فَٱنظُرْ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُنذَرِينَ
Fānžur Kayfa Kāna `Āqibatu Al-Mundharīna
Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.
إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ
‘Illā `Ibāda Allāhi Al-Mukhlaşīna
Tetapi hamba-hamba Allah yang bersihkan (dari dosa tidak akan diazab).
وَلَقَدْ نَادَىٰنَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ ٱلْمُجِيبُونَ
Wa Laqad Nādānā Nūĥun Falani`ma Al-Mujībūna
Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).
وَنَجَّيْنَٰهُ وَأَهْلَهُۥ مِنَ ٱلْكَرْبِ ٱلْعَظِيمِ
Wa Najjaynāhu Wa ‘Ahlahu Mina Al-Karbi Al-`Ažīmi
Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar.
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُۥ هُمُ ٱلْبَاقِينَ
Wa Ja`alnā Dhurrīyatahu Humu Al-Bāqīna
Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ
Wa Taraknā `Alayhi Fī Al-‘Ākhirīna
Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian;
سَلَٰمٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِى ٱلْعَٰلَمِينَ
Salāmun `Alá Nūĥin Fī Al-`Ālamīna
“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”.
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
‘Innā Kadhālika Najzī Al-Muĥsinīna
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ
‘Innahu Min `Ibādinā Al-Mu’uminīna
Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.
ثُمَّ أَغْرَقْنَا ٱلْءَاخَرِينَ
Thumma ‘Aghraqnā Al-‘Ākharīna
Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain.
وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبْرَٰهِيمَ
Wa ‘Inna Min Shī`atihi La’ibrāhīma
Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).
إِذْ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
‘Idh Jā’a Rabbahu Biqalbin Salīmin
(lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci:
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَاذَا تَعْبُدُونَ
‘Idh Qāla Li’abīhi Wa Qawmihi Mādhā Ta`budūna
(Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah itu?
أَئِفْكًا ءَالِهَةً دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ
‘A’ifkāan ‘Ālihatan Dūna Allāhi Turīdūna
Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?
فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Famā Žannukum Birabbi Al-`Ālamīna
Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?”
فَنَظَرَ نَظْرَةً فِى ٱلنُّجُومِ
Fanažara Nažratan Fī An-Nujūmi
Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang.
فَقَالَ إِنِّى سَقِيمٌ
Faqāla ‘Innī Saqīmun
Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku sakit”.
فَتَوَلَّوْا۟ عَنْهُ مُدْبِرِينَ
Fatawallaw `Anhu Mudbirīna
Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang.
فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
Farāgha ‘Ilá ‘Ālihatihim Faqāla ‘Alā Ta’kulūna
Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan?
مَا لَكُمْ لَا تَنطِقُونَ
Mā Lakum Lā Tanţiqūna
Kenapa kamu tidak menjawab?”
فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًۢا بِٱلْيَمِينِ
Farāgha `Alayhim Đarbāan Bil-Yamīni
Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat).
فَأَقْبَلُوٓا۟ إِلَيْهِ يَزِفُّونَ
Fa’aqbalū ‘Ilayhi Yaziffūna
Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas.
قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ
Qāla ‘Ata`budūna Mā Tanĥitūna
Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Wa Allāhu Khalaqakum Wa Mā Ta`malūna
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.
قَالُوا۟ ٱبْنُوا۟ لَهُۥ بُنْيَٰنًا فَأَلْقُوهُ فِى ٱلْجَحِيمِ
Qālū Abnū Lahu Bunyānāan Fa’alqūhu Fī Al-Jaĥīmi
Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.
فَأَرَادُوا۟ بِهِۦ كَيْدًا فَجَعَلْنَٰهُمُ ٱلْأَسْفَلِينَ
Fa’arādū Bihi Kaydāan Faja`alnāhumu Al-‘Asfalīna
Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.
وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ
Wa Qāla ‘Innī Dhāhibun ‘Ilá Rabbī Sayahdīni
Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Rabbi Hab Lī Mina Aş-Şāliĥīna
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ
Fabasharnāhu Bighulāmin Ĥalīmin
Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Falammā Balagha Ma`ahu As-Sa`ya Qāla Yā Bunayya ‘Innī ‘Ará Fī Al-Manāmi ‘Annī ‘Adhbaĥuka Fānžur Mādhā Tará Qāla Yā ‘Abati Af`al Mā Tu’umaru Satajidunī ‘In Shā’a Allāhu Mina Aş-Şābirīna
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ
Falammā ‘Aslamā Wa Tallahu Liljabīni
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ
Wa Nādaynāhu ‘An Yā ‘Ibrāhīmu
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
Qad Şaddaqta Ar-Ru’uyā ‘Innā Kadhālika Najzī Al-Muĥsinīna
sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ
‘Inna Hādhā Lahuwa Al-Balā’u Al-Mubīnu
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Wa Fadaynāhu Bidhibĥin `Ažīmin
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ
Wa Taraknā `Alayhi Fī Al-‘Ākhirīna
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ
Salāmun `Alá ‘Ibrāhīma
(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.
كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
Kadhālika Najzī Al-Muĥsinīna
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ
‘Innahu Min `Ibādinā Al-Mu’uminīna
Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
وَبَشَّرْنَٰهُ بِإِسْحَٰقَ نَبِيًّا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Wa Basharnāhu Bi’isĥāqa Nabīyāan Mina Aş-Şāliĥīna
Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
وَبَٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰٓ إِسْحَٰقَ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ مُبِينٌ
Wa Bāraknā `Alayhi Wa `Alá ‘Isĥāqa Wa Min Dhurrīyatihimā Muĥsinun Wa Žālimun Linafsihi Mubīnun
Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ
Wa Laqad Manannā `Alá Mūsá Wa Hārūna
Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun.
وَنَجَّيْنَٰهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ ٱلْكَرْبِ ٱلْعَظِيمِ
Wa Najjaynāhumā Wa Qawmahumā Mina Al-Karbi Al-`Ažīmi
Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.
وَنَصَرْنَٰهُمْ فَكَانُوا۟ هُمُ ٱلْغَٰلِبِينَ
Wa Naşarnāhum Fakānū Humu Al-Ghālibīna
Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang.
وَءَاتَيْنَٰهُمَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلْمُسْتَبِينَ
Wa ‘Ātaynāhumā Al-Kitāba Al-Mustabīna
Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas.
وَهَدَيْنَٰهُمَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Wa Hadaynāhumā Aş-Şirāţa Al-Mustaqīma
Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِى ٱلْءَاخِرِينَ
Wa Taraknā `Alayhimā Fī Al-‘Ākhirīna
Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian;
سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ
Salāmun `Alá Mūsá Wa Hārūna
(yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun”.
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
‘Innā Kadhālika Najzī Al-Muĥsinīna
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
إِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ
‘Innahumā Min `Ibādinā Al-Mu’uminīna
Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ
Wa ‘Inna ‘Ilyāsa Lamina Al-Mursalīna
Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul.
إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَلَا تَتَّقُونَ
‘Idh Qāla Liqawmihi ‘Alā Tattaqūna
(ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?
أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ ٱلْخَٰلِقِينَ
‘Atad`ūna Ba`lāan Wa Tadharūna ‘Aĥsana Al-Khāliqīna
Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta,
ٱللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ ءَابَآئِكُمُ ٱلْأَوَّلِينَ
Allāha Rabbakum Wa Rabba ‘Ābā’ikumu Al-‘Awwalīna
(yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?”
فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Fakadhabūhu Fa’innahum Lamuĥđarūna
Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka),
إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ
‘Illā `Ibāda Allāhi Al-Mukhlaşīna
kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ
Wa Taraknā `Alayhi Fī Al-‘Ākhirīna
Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.
سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلْ يَاسِينَ
Salāmun `Alá ‘Il Yā -Sīn
(yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?”
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
‘Innā Kadhālika Najzī Al-Muĥsinīna
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ
‘Innahu Min `Ibādinā Al-Mu’uminīna
Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
وَإِنَّ لُوطًا لَّمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ
Wa ‘Inna Lūţāan Lamina Al-Mursalīna
Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul.
إِذْ نَجَّيْنَٰهُ وَأَهْلَهُۥٓ أَجْمَعِينَ
‘Idh Najjaynāhu Wa ‘Ahlahu ‘Ajma`īna
(Ingatlah) ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) semua,
إِلَّا عَجُوزًا فِى ٱلْغَٰبِرِينَ
‘Illā `Ajūzāan Fī Al-Ghābirīna
kecuali seorang perempuan tua (isterinya yang berada) bersama-sama orang yang tinggal.
ثُمَّ دَمَّرْنَا ٱلْءَاخَرِينَ
Thumma Dammarnā Al-‘Ākharīna
Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain.
وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِم مُّصْبِحِينَ
Wa ‘Innakum Latamurrūna `Alayhim Muşbiĥīna
Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi,
وَبِٱلَّيْلِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Wa Bil-Layli ‘Afalā Ta`qilūna
dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?
وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ
Wa ‘Inna Yūnis Lamina Al-Mursalīna
Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,
إِذْ أَبَقَ إِلَى ٱلْفُلْكِ ٱلْمَشْحُونِ
‘Idh ‘Abaqa ‘Ilá Al-Fulki Al-Mashĥūni
(ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan,
فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُدْحَضِينَ
Fasāhama Fakāna Mina Al-Mudĥađīna
kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.
فَٱلْتَقَمَهُ ٱلْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ
Fāltaqamahu Al-Ĥūtu Wa Huwa Mulīmun
Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.
فَلَوْلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُسَبِّحِينَ
Falawlā ‘Annahu Kāna Mina Al-Musabbiĥīna
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,
لَلَبِثَ فِى بَطْنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Lalabitha Fī Baţnihi ‘Ilá Yawmi Yub`athūna
niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.
فَنَبَذْنَٰهُ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيمٌ
Fanabadhnāhu Bil-`Arā’i Wa Huwa Saqīmun
Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.
وَأَنۢبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ
Wa ‘Anbatnā `Alayhi Shajaratan Min Yaqţīnin
Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.
وَأَرْسَلْنَٰهُ إِلَىٰ مِا۟ئَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ
Wa ‘Arsalnāhu ‘Ilá Miā’ati ‘Alfin ‘Aw Yazīdūna
Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.
فَـَٔامَنُوا۟ فَمَتَّعْنَٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
Fa’āmanū Famatta`nāhum ‘Ilá Ĥīnin
Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.
فَٱسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ ٱلْبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلْبَنُونَ
Fāstaftihim ‘Alirabbika Al-Banātu Wa Lahumu Al-Banūna
Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki,
أَمْ خَلَقْنَا ٱلْمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثًا وَهُمْ شَٰهِدُونَ
‘Am Khalaqnā Al-Malā’ikata ‘Ināthāan Wa Hum Shāhidūna
atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?
أَلَآ إِنَّهُم مِّنْ إِفْكِهِمْ لَيَقُولُونَ
‘Alā ‘Innahum Min ‘Ifkihim Layaqūlūna
Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan:
وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَ
Walada Allāhu Wa ‘Innahum Lakādhibūna
“Allah beranak”. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.
أَصْطَفَى ٱلْبَنَاتِ عَلَى ٱلْبَنِينَ
‘Āşţafá Al-Banāti `Alá Al-Banīna
Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?
مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
Mā Lakum Kayfa Taĥkumūna
Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan?
أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
‘Afalā Tadhakkarūn
Maka apakah kamu tidak memikirkan?
أَمْ لَكُمْ سُلْطَٰنٌ مُّبِينٌ
‘Am Lakum Sulţānun Mubīnun
Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?
فَأْتُوا۟ بِكِتَٰبِكُمْ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
Fa’tū Bikitābikum ‘In Kuntum Şādiqīna
Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar.
وَجَعَلُوا۟ بَيْنَهُۥ وَبَيْنَ ٱلْجِنَّةِ نَسَبًا وَلَقَدْ عَلِمَتِ ٱلْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Wa Ja`alū Baynahu Wa Bayna Al-Jinnati Nasabāan Wa Laqad `Alimati Al-Jinnatu ‘Innahum Lamuĥđarūna
Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka),
سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
Subĥāna Allāhi `Ammā Yaşifūna
Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,
إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ
‘Illā `Ibāda Allāhi Al-Mukhlaşīna
Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari (dosa).
فَإِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ
Fa’innakum Wa Mā Ta`budūna
Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu,
مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ بِفَٰتِنِينَ
Mā ‘Antum `Alayhi Bifātinīna
Sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah,
إِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ ٱلْجَحِيمِ
‘Illā Man Huwa Şālī Al-Jaĥīmi
kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala.
وَمَا مِنَّآ إِلَّا لَهُۥ مَقَامٌ مَّعْلُومٌ
Wa Mā Minnā ‘Illā Lahu Maqāmun Ma`lūmun
Tiada seorangpun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu,
وَإِنَّا لَنَحْنُ ٱلصَّآفُّونَ
Wa ‘Innā Lanaĥnu Aş-Şāffūna
dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah).
وَإِنَّا لَنَحْنُ ٱلْمُسَبِّحُونَ
Wa ‘Innā Lanaĥnu Al-Musabbiĥūna
Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah).
وَإِن كَانُوا۟ لَيَقُولُونَ
Wa ‘In Kānū Layaqūlūna
Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata:
لَوْ أَنَّ عِندَنَا ذِكْرًا مِّنَ ٱلْأَوَّلِينَ
Law ‘Anna `Indanā Dhikrāan Mina Al-‘Awwalīna
“Kalau sekiranya di sksi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu,
لَكُنَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ
Lakunnā `Ibāda Allāhi Al-Mukhlaşīna
benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)”.
فَكَفَرُوا۟ بِهِۦ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
Fakafarū Bihi Fasawfa Ya`lamūna
Tetapi mereka mengingkarinya (Al Quran); maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu).
وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا ٱلْمُرْسَلِينَ
Wa Laqad Sabaqat Kalimatunā Li`ibādinā Al-Mursalīn
Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,
إِنَّهُمْ لَهُمُ ٱلْمَنصُورُونَ
‘Innahum Lahumu Al-Manşūrūna
(yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan.
وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلْغَٰلِبُونَ
Wa ‘Inna Jundanā Lahumu Al-Ghālibūna
Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang,
فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ
Fatawalla `Anhum Ĥattá Ĥīnin
Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu ketika.
وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ
Wa ‘Abşirhum Fasawfa Yubşirūna
Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat (azab itu).
أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ
‘Afabi`adhābinā Yasta`jilūna
Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan?
فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلْمُنذَرِينَ
Fa’idhā Nazala Bisāĥatihim Fasā’a Şabāĥu Al-Mundharīna
Maka apabila siksaan itu turun dihalaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu.
وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ
Wa Tawalla `Anhum Ĥattá Ĥīnin
Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika.
وَأَبْصِرْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ
Wa ‘Abşir Fasawfa Yubşirūna
Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat.
سُبْحَٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
Subĥāna Rabbika Rabbi Al-`Izzati `Ammā Yaşifūna
Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan.
وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِينَ
Wa Salāmun `Alá Al-Mursalīna
Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.
وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Wa Al-Ĥamdu Lillāhi Rabbi Al-`Ālamīna
Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Sumber :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *