Ibu Harus Mahir Mengejan Supaya Bayi Lahir Secara Normal dengan Aman

Ibu Harus Mahir Mengejan
Supaya Bayi Lahir Secara Normal dengan Aman

Image Source : www.desysenyumsimungil.wordpress.com

Peristiwa melahirkan adalah sebuah tugas mulia dari seorang ibu. Namun tak jarang ibu yang mulai masuk ruang  bersalin menjadi begitu cemas. Kecemasan ini bisa di mengerti, terutama bagi yang baru pertamakali melahirkan. Penyebab rasa cemas yang dirasakan antara lain, apakah kuat menahan sakit, apakah bisa mengejan dengan baik, apakah bayi yang dikandung cacat atau tidak dan sebagainya.

Pada ibu  hamil yang akan melalui  tahapan persalinan namun diawali dengan kecemasan berlebihan akan  menyebabkan otot-otot tubuh dan seluruh saraf menjadi tegang.  Ketidaksiapan mental sangat berpengaruh selama proses persalinan terutama saat mengejan. Proses bersalin sendiri sebenarnya merupakan sesuatu yang alamiah. Tanpa banyak teori pun nenek moyang kita dahulu hanya mengandalkan kekuatan mengejan pada saat bersalin. Seiring dengan berkembangnya ilmu dan pengetahuan dalam kebidanan, maka para ahli meneliti ternyata ada tiga hal yang mendukung kelancaran proses bersalin, salah satunya adalah POWER. Power ini antara lain kekuatan ibu untuk mengejan yang mendukung kontraksi  rahim untuk proses melahirkan sang bayi dari dalam rahim sang ibu.

 

Mengapa  kemampuan ibu untuk mengejan sangat penting dalam proses persalinan?

Mengejan akan sangat membantu otot rahim mendorong bayi menuju jalan lahir. Kemampuan seorang ibu untuk mengejan dengan benar, akan menentukan keadaan bayi yang dilahirkan. Bila seluruh keadaan bayi dan kondisi jalan lahir ibu memenuhi syarat untuk dilangsungkan proses persalinan normal tetapi   ibu tak mampu mengejan dengan baik, maka bayi akan terlalu lama berada di jalan lahir (dasar panggul). Keadaan ini membuat bayi dalam kandungan tidak aman. Saat lahir kondisi bayi lemah atau bahkan mengalami gangguan pernafasan, tidak bisa menangis, bayi tampak tidak bugar.

 

Faktor apa saja yang membuat seorang ibu tidak kuat mengejan?

Ada banyak hal yang berpengaruh terhadap kemampuan seorang ibu untuk mengejan, antara lain usia yang sudah lebih dari 35 tahun, keadaan kesehatan ibu yang kurang optimal, misalnya kurang gisi selama hamil, ibu hamil yang sering melahirkan dengan jarak yang terlalu dekat, rasa ketakutan dan trauma  mental pada saat proses peralinan yang lalu, sehingga pada saat mengejan tiba-tiba ibu panik, ibu yang kelelahan selama melalui tahap demi tahap  proses persalinan dan sebagainya.

 

Kapan sebaiknya ibu boleh mengejan saat di kamar bersalin?

Nah ini penting. Seringkali Ibu bersalin tidak sabar, ingin segera mengakhiri proses persalinan dengan mengejan sekuat – kuatnya. Padahal ini justru tidak baik. Selain akan melelahkan ibu, juga akan membuat jalan lahir bengkak. Mengejan sebaiknya dimulai ketika pembukaan jalan lahir sudah cukup luas untuk dilalui bayi.Hal ini dipastikan oleh dokter kandungan maupun bidan dengan melakukan pemeriksaan dalam. Untuk dapat memenuhi syarat bisa dilalui bayi pembukaan jalan lahir sepuluh cm. Jadi jika belum ada bimbingan untuk mengejan dari bidan ataupun dokter sebaiknya ibu tidak mengejan dahulu.

 

Kalau  tetap terasa ada dorongan untuk mengejan tapi pembukaan jalan lahir belum memenuhi syarat untuk mengejan, apa yang harus dilakukan ?

Sedapat mungkin mengurangi refleks mengejan tersebut dengan melatih relaksasi otot otot tubuh dengan menarik nafas panjang melalui hidung dan menghembuskan perlahan-lahan melalui mulut. Hal ini akan membantu mengalihkan perhatian terhadap rasa nyeri yang timbul. Jika fasilitas tempat bersalin memungkinkan ibu dapat melakukan tehnik relaksasi yang lain, misalnya sambil mendengar musik klasik, boleh juga berendam di bak air hangat bila melalui metode persalinan water birth. Suami turut berperan untuk memberi semangat dan mengingatkan. Ikuti petunjuk tehnik relaksasi yang diberikan bidan. Saat ini juga tersedia layanan persalinan metode hypnobirthing. Sabarlah untuk melewati tahapan ini. Pada umumnya pembukaan  delapan cm ibu sudah mulai merasakan ada dorongan untuk mengejan dengan sendirinya.

 

Berapa kali ibu harus mengejan agar bayi bisa lahir ? Kalau tidak bisa mengejan istri saya takut dimarahi bidan.

Nah ini pertanyaan yang juga sering muncul dari suami. Berapa kali mengejan  tidak bisa disamakan pada tiap ibu bersalin. Ada yang cukup tiga  kali, tapi tak jarang juga yang harus berkali-kali. Kekuatan dan ketepatan mengejan sangat berpengaruh. Bersyukur saat ini para bidan sudah mempunyai standar dalam pembimbingan proses melahirkan atau Asuhan Persalinan Normal. Pada saat di ruang bersalin bidan akan membimbing ibu bagaimana cara mengejan yang benar, posisi yang nyaman saat bersalin, menghadirkan seseorang yang bisa memberi dukungan. Jadi tak perlu cemas, nanti kalau tidak bisa mengejan dimarahi bidan. Tidak benar. Pada Asuhan Persalinan Normal sekarang, bidan dianjurkan selalu memberi pujian bagi ibu pada saat proses mengejan. Jika keliru, bidan wajib membimbing dengan baik, bukan marah.

 

Kapan waktunya harus mengejan?

Pada saat masuk kamar bersalin, bidan dan dokter akan memberitahu tehnik atau cara mengejan dengan benar. Mengejan yang benar boleh dimulai hanya pada saat dalam bimbingan penolong persalinan baik dokter maupun bidan. Pada saat tidak ada kontraksi (rasa seperti kram dan nyeri pada perut) sebaiknya ibu tetap bernafas normal dan relaksasi. Mengejan dimulai pada saat kontraksi datang dan  disertai rasa ingin mengejan yang tidak tertahan, ibu mengambil nafas panjang dan konsentrasikan kekuatan tenaga pada daerah jalan lahir (vagina) agar membantu bayi untuk proses keluar dari rahim dengan mengejan sekuat kuatnya. Mintalah petunjuk pada bidan pendamping ibu di ruang bersalin. Saat ini juga tersedia fasilitas senam hamil dan kelas prenatal. Jika ada waktu ibu bisa bergabung dalam kelas prenatal maupun senam hamil. Di kelas prenatal  akan diajarkan teknik relaksasi dan cara mengejan yang tepat.

 

Semoga Bermanfaat bagi calon ibu yang akan melahirkan. Jangan lupa ikuti kelas prenatal maupun senam hamil sambil menunggu hari kelahiran sang buah hati.

 

 

Sumber :
http://lifestyle.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *