Anemia Defisiensi Besi Pengaruhi Kecerdasan Anak

Anemia Defisiensi Besi (ADB) Pengaruhi Kecerdasan Anak

Image Source : www.childrensministry.com

“Kasus anemia defisiensi besi (ADB) merupakan kasus anemia yang paling sering dijumpai setiap kelompok usia anak rentan terhadap ADB, namun kelompok yang paling tinggi mengalaminya adalah balita usia 0-5 tahun” , kata Prof. Dr. Dr. Djajadiman Gatot, Sp.A (K), Dari Divisi Hematologi Onkologi, Departemen Ilmu Anak FKUI/RSCM, dan Ketua Satuan Tugas Anemia Defisiensi Besi IDAI.

Anemia defisiensi besi pada umumnya disebabkan karena faktor kekurangan gizi, penyerapan makanan yang kurang baik, cepatnya pertumbuhan bayi dan remaja, cacingan, infeksi menahun, atau penyakit yang menyebabkan penghancuran sel darah merah. Polusi yang berlebihan yang masuk ke dalam tubuh juga bisa menggeser kadar besi dalam darah.

 

Jangan disepelekan

Biasanya, tubuh penderita anemia akan menunjukkan sinyal tertentu, berupa cepat merasa lelah, kondisi badan lemah, wajah pucat, jantung berdebar-debar, dan nafas lebih pendek. Pada kasus tertentu ada penderita anemia yang rambutnya rontok. Tapi mungkin juga yang tidak menunjukkan gejala-gejala tertentu. Bila anemia terjadi dalam jangka waktu lama, meski kadar hemoglobinnya rendah, bisa saja tidak menunjukkan gejala khas karena tubuh telah beradaptasi.

Anemia juga tida terjadi dalam waktu singkat, namun melalui tiga tahapan, yaitu yang pertama adalah deplesi besi, atau tahap awal tubuh kekurangan besi, cadangan zat besi di dalam tubuh mulai berkurang, tapi besi dalam plasma darah masih normal, begitu pula nilai hemoglobin dan hematokrit.

Tahap selanjutnya adalah defisiensi besi tanpa anemia, dimana cadangan zat besi, dan zat besi dalam plasma juga sudah berkurang, tetapi hemoglobin masih normal. Pada tingkat lebih lanjut sudah terjadi anemia defisiensi besi, dimana besi dalam plasma dan nilai hemoglobin sudah menurun. “Itu sebabnya, pemeriksaan hemoglobin saja tidak cukup untuk mengetahui, apakah seorang anak mengalami ADB atau tidak. Perlu diperiksa juga kadar serum ferritin yang menunjukkan total cadangan besi” , tegas Prof. Djajadiman.

Menurut Prof. Djajadiman, masalah anemia jangan dianggap enteng, karena bila kondisi ini dialami seorang anak sampai lebih dari dua tahun, maka akan membuat kecerdasannya berkurang, atau malah IQ-nya turun. “Jangan berharap IQ mereka lebih dari 100, paling tinggi 90-an. Pagi diajari, sore lupa. Karena kekurangan besi juga menghambat pembentukan zat neurotransmiter yang penting untuk pengendalian emosi, pemusatan perhatian dalam perilaku anak” kata Prof. Djajadiman.

Dampak kekurangan besi pada anak membuat melambatnya pertumbuhan percabangan sel otak (dendrit), sehingga hubungan antar sel otak kurang kompleks dan proses informasi melambat, juga terganggunya proses pembentukan selubung sel saraf (myelinisasi), sehingga memicu gangguan penglihatan, pendengaran, dan perilaku. Terjadi pula gangguan metabolisme di pusat kendali emosi dan pusat kendali kognitif.

Juga menurunkan aktivitas enzim triptofan dan tirosin hidroksilase yang mengakibatkan gangguan produksi serotonin dan dopamin. Ini membuat anak tidak mampu mengendalikan diri dan perasaan, tidak mampu memusatkan perhatian dan mengikuti pembelajaran dengan baik, dan gangguan perilaku.

Anemia akan berbahaya kalau sudah diikuti dengan penyakit-penyakit yang lain. Karena itu, penting sekali dilakukan pemeriksaan ke laboratorium, terutama pemeriksaan darah lengkap. Yang perlu ditakutkan adalah bila ditemukan sebab dan gejalanya dan setelah ditegakkan diagnosanya, anemia yang ada itu menjurus ke thalassemia.

 

Semoga Bermanfaat…

 

Sumber : 
www.prodia.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *